Depok, 4 November 2024. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) bersama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) menjadi tuan rumah Persidangan Antarbangsa Kajian Malaysia-Indonesia (PAKMI) ke-15 yang berlangsung pada 30 Oktober – 1 November 2024. PAKMI sebelumnya bernama Persidangan Antarbangsa Hubungan Malaysia-Indonesia (PAHMI) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Faculty of Arts and Social Sciences (FASS) Universiti Malaya (UM) bersama universitas mitra di Indonesia. Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Malaysia dan Indonesia pada tingkat pemerintah, akademisi, hingga masyarakat. PAKMI juga mendorong kolaborasi antara kedua negara dalam mengamankan kepentingan bersama di kancah global.
Konferensi berjalan selama tiga hari berturut-turut dengan menghadirkan peneliti dan pemerhati Indonesia-Malaysia dari berbagai perguruan tinggi global, antara lain, Chulalongkorn University, Leiden University, Macquarie Business School, National Cheng Kung University (NCKU), dan National University of Singapore (NUS). Sementara itu, perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia yang berpartisipasi pada konferensi ini, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Utara Malaysia (UUM), dan masih banyak lagi.
Dean FASS UM, Prof. Dr. Danny Wong Tze Ken menekankan pentingnya relasi people to people dalam mengkaji hubungan antara kedua negara. Ia mengapresiasi langkah FIB dan FISIP UI yang telah mengundang lebih dari 150 Indonesianis dan Malaysianis dari berbagai belahan dunia guna memperkaya sudut pandang dalam persidangan antarbangsa ini. Keterlibatan mereka diwujudkan melalui presentasi makalah terkait empat sub tema, yaitu (1) politik, sejarah, dan keamanan; (2) ekonomi dan pembangunan; (3) masyarakat dan budaya; (4) keberlanjutan dan kebertahanan.
Direktur PAKMI ke-15, Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana menjelaskan alasan dibalik perubahan nama dari PAHMI menjadi PAKMI “Transformasi dari PAHMI ke PAKMI dilandasi oleh kesadaran bahwa termin ‘hubungan’ membatasi materi pemakalah. Perubahan termin menjadi ‘kajian’ diharapkan mampu memperluas ruang lingkup yang didiskusikan dalam konferensi ini” ucapnya. Senada dengan Prof. Cecep, Dekan FIB UI, Dr. Bondan Kanumoyoso, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa momen perubahan nama ini menjadi suatu kehormatan bagi UI karena dapat menggunakannya untuk pertama kali. Sebelumnya, pada 2017 FIB UI pernah menjadi tuan rumah konferensi ini dengan nama PAHMI ke-11.
Menteri Luar Negeri Indonesia Periode 2014–2024, Retno Lestari Priansari Marsudi, hadir sebagai keynote speech memaparkan urgensi Malaysia dalam politik luar negeri Indonesia, vice versa. Ia menyatakan bahwa adanya agenda regular summit antara Indonesia dan Malaysia sudah cukup membuktikan bahwa kedua negara melihat satu sama lain sebagai prioritas dalam kebijakan luar negerinya. Selain itu, Retno juga menyinggung persoalan ASEAN Centrality yang ternyata berpengaruh terhadap hubungan bilateral negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia “ASEAN Centrality turut berkontribusi dalam menentukan kebijakan luar negeri Indonesia dan Malaysia. Kesolidan ASEAN akan mendorong terwujudnya kolaborasi antara kedua negara baik di bawah payung ASEAN maupun hubungan bilateral” katanya.
Duta Besar Malaysia untuk Republik Indonesia, Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, menyambut baik pelaksanaan PAKMI ke-15 di UI. Ia berpandangan bahwa tema “Indonesia and Malaysia Amid Regional dan Global Challenges” sangat tepat untuk diangkat sebagai isu utama. Dalam hal ini, Dato Hussin melihat adanya kepentingan bersama yang dapat dikompromikan antara kedua negara dalam menghadapi era globalisasi yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA). Menurutnya, hubungan yang erat di tingkat akademisi mampu menghasilkan riset bersama dalam mengatasi tantangan regional maupun global.
Sepakat dengan pandangan Dato Hussin, Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menyatakan bahwa perspektif regional dan global berperan penting dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dan Malaysia. Untuk itu, isu-isu seperti perubahan iklim dan krisis ekonomi hanya dapat dituntaskan jika kedua negara mampu menghasilkan riset bersama dalam menentukan kebijakan lingkungan dan ekonomi yang mapan. Pada kesempatan yang berbeda, Senior Lecturer Malay Studies NUS, Dr. Azhar Ibrahim mengusulkan konsep “Riset Bermaslahat”. Dalam hal ini, joint research yang dilakukan ke depannya haruslah mengutamakan aspek kebermanfaatan bagi kedua negara sekaligus.