UI Perluas Kerja Sama hingga Eropa Tenggara

Depok, 1 November 2024. Universitas Indonesia (UI) mengadakan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sarajevo dalam rangka mengembangkan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Bosnia Herzegovina (BiH) pada Kamis (31/10). Sekretaris UI, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D., menyambut hangat kedatangan KBRI Sarajevo di Kampus UI Depok. Ia yakin bahwa peluang kolaborasi antara UI dan perguruan tinggi di BiH dapat diperluas “Kami memiliki harapan positif akan penjajakan kerja sama ini mengingat ada riwayat implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara UI dengan University of Zenica pada 2019 melalui mekanisme pengiriman mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UI untuk belajar selama beberapa bulan di sana” kata dr Agustin.

Berdasarkan data dari Kantor Urusan Internasional (KUI) terdapat 5 perguruan tinggi dari BiH yang pernah menjalin kerja sama dengan UI, yakni University of Tuzla, University of Sarajevo, University Dzemal Bijedic of Mostar, University of Zenica, dan University of East Sarajevo. Satu-satunya MoU yang masih aktif adalah antara UI dengan University of Zenica, sementara empat lainnya perlu diperbaharui sebab masa berlakunya telah habis pada 2023.

Menanggapi hal ini, Duta Besar RI untuk BiH, Roem Kono menyatakan bahwa pihaknya siap menjadi perantara antara UI dengan perguruan tinggi di BiH. Selain itu, Roem juga mengundang UI untuk berkunjung ke KBRI Sarajevo guna melihat secara langsung kesiapan BiH dalam menerima mahasiswa internasional.

BiH sebagai salah satu negara di kawasan Eropa Tenggara memiliki kualitas pendidikan yang cukup baik dengan 8 universitas negeri dan 22 universitas swasta. Adapun, bidang yang menjadi keunggulan di negeri ini antara lain kedokteran, kedokteran gigi, teknik industri, dan teknik metalurgi. Penilaian Webometrics Ranking menunjukkan bahwa University of Sarajevo, University of Banja Luka, dan University of East Sarajevo menempati urutan 5% teratas di tingkat global. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa alumni ketiga kampus tersebut mampu bersaing dengan lulusan kampus top di Uni Eropa ketika bekerja dalam satu industri yang sama.

Guna mempermudah pelaksanaan MoU ke depannya, dr. Agustin menyarankan agar program pertukaran pelajar diutamakan sebelum menjajaki bentuk kerja sama lain. Menurutnya, mekanisme ini dapat dengan mudah dieksekusi karena tidak perlu ada sinkronisasi kurikulum sebagaimana yang biasa dilakukan ketika hendak menyusun joint degree atau double degree. Direktur Kerja Sama, Dr. Toto Pranoto memiliki pandangan yang sama terkait hal ini. Ia menyebutkan bahwa kunjungan Duta Besar BiH, Armin Limo beberapa waktu lalu menginginkan segera terwujudnya kerja sama antara UI dengan perguruan tinggi di BiH. Dalam hal ini, program pertukaran pelajar dapat diimplementasikan segera setelah MoU ditandatangani antara kedua institusi.

Roem berpandangan bahwa mekanisme exchange ini dapat melibatkan lebih dari sekadar mahasiswa. Dosen dan tenaga kependidikan (tendik) juga dapat berpartisipasi dalam mensukseskan kerja sama antara kedua belah pihak. Hal ini tidak terlepas dari pembicaraan informal dengan Rector of University of Zenica, Prof. dr. Jusuf Durakovic tepat sebelum kunjungan Roem ke UI “Prof. Jusuf berpesan agar UI tidak ragu melibatkan lebih banyak pihak sebab kami di sini akan menyiapkan akomodasi terbaik untuk putra-putri terbaik dari Indonesia” ujarnya.

Pembicaraan terkait potensi kerja sama antara UI dengan Duta Besar RI untuk BiH juga diikuti oleh Plt. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA, dan Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Arief Wibisono, Ph.D., serta staf dari KUI dan Direktorat Kerja Sama.

source